sohibku sayang,
lo bener banget waktu menyarankan gw untuk membaca novel grafik Epileptik 1 & 2 -nya David B. Gue jadi merasa gak sendirian. Ternyata ada orang lain yang punya perasaan yang sama.
Saat membaca Epileptik 1, gw agak kurang suka dengan alur ceritanya yang loncat-loncat. Jadi bikin susah dimengerti kalo tiba-tiba si David ‘loncat’ bercerita tentang nenek moyangnya, padahal sebelumnya ia sedang membahas hal lain. Iya, iya…gw sendiri kalau sedang bercerita memang suka loncat-loncat topik bahasan, tapi kan gak berarti gw bisa dengan mudah menangkap cerita orang lain yang bergaya sama. Sejak baca buku pertamanya, terasa banget kesan ‘dark’ nya. David mungkin sempat mengalami (masih?) depresi akibat kondisi abangnya, jadi gak aneh kalau dua buku ini terasa banget emosinya, tertekan dan pesimistis.
Apa kita saja yang merasa begitu ya? Mungkin pembaca lain yang tidak menjalani kondisi keluarga seperti kita atau David, mungkin bakal punya opini yang lain juga. Beruntunglah mereka.
Ada satu bagian cerita dari buku Epileptik 2 yang kena banget ke gw, waktu David dan adiknya (lupa namanya) mengakui kalau mereka punya keinginan terpendam untuk membunuh sang abang, Jean-Christophe, yang menderita epilepsi. Waktu membaca bagian ini, gw hanya tersenyum miris. Senyum karena gw senang bukan gw aja yang punya pikiran jahat semacam ini. Ada David B. yang mengerti rasanya memiliki anggota keluarga ‘berbeda’ dan kerap mendatangkan masalah yang tak pernah selesai. Dan hanya ada satu jalan agar masalah ini selesai dan kehidupan keluarga bisa membaik, yaitu dengan kematian si sumber masalah.Begitu dia mati, semua masalah usai dan hidup kembali normal. Lo sempetmengutip kalimat GB Shaw dalam bukunya ‘Man & Superman’ bahwa kematian terkadang seperti perayaan. Ironis ya, say.
Tapi gw merasa miris karena sadar menyimpan niat teramat jahat pada saudara kandung sendiri. Niat yang gw tekan jauh ke dalam jiwa gw agar gak tercium oleh setan. Agar gak pernah ada jalan untuk kebusukan itu terlaksana. Agar gw ga masuk penjara gara-gara kasus pembunuhan. Lo gak mau dong liat muka gw muncul di Buser. Amit-amit, naudjubileh…. Tapi kalo lo gak punya niat busuk yang sama kan menyangkut kasus your sister? Baguslah kalo gak.
Seperti elo, gw, David atau mungkin banyak jiwa yang lain, kita sebaiknya terus berusaha menerima keadaan. Jangan pernah iri dengan keluarga orang lain yang (tampaknya) bahagia dan harmonis. Seperti kata lo, setiap keluarga pasti punya ‘hantu’- nya sendiri. Keluarga kita adalah keluarga terbaik yang bisa kita miliki.
well, thanx for the books. Bakal gw balikin dalam kondisi tetap rapi dan licin.
peluk cium cubit sayang (halah….),
gw